Laman

Kamis, 17 November 2011

Pengalaman Spiritual Terhadap Kualitas Guru

PENGAMALAN SPIRITUAL
BAGI PENINGKATAN KUALITAS SUMBER DAYA GURU

Spiritual dan Teori Pengembangan Diri
Kecerdasan Spiritual (dari berbagai sumber) adalah sejenis ukuran kecerdasan yang mencakup kesadaran akan “makna, tujuan, dan pandangan seseorang mengenai hal yang paling berarti dalam hidupnya dan bagaimana semua itu diterapkan dalam kehidupan dan strategi-strategi perilaku sehari-hari. Orang yang mempunyai kecerdasan spiritual akan tercermin dalam apa yang diyakini dan dilakukannya. Sehingga sangat bertanggung jawab terhadap setiap apa yang diembannya”
Menurut Haidar, mengutip tulisan Danah Zohar dan Ian marshal, kecerdasan spiritual laksana lem yang merekatkan, memberi kerangka moral dan motivasi juga etos dan spirit yang mapu memberikan perubahan mendasar dalam diri dan komunitasnya.
Mengapa? Karena orang dengan kecerdasan spiritual meyakini bahwa hidup yang dijalani adalah panggilan hati bukan kepura-puraan atas keterpaksaan. “Unsur spiritual dalam diri manusia membuat dia bertanya mengapa dia mengerjakan sesuatu dan membuat dia mencari cara-cara yang secara fundamental lebih baik untuk dilakukan. Unsur spiritual itu membuat seseorang  ingin agar hidup dan upaya diri memiliki arti”
Lalu apa kaitannya sentuhan spiritual terhadap peningkatan kualitas sumber daya guru?  Mengadopsi pemikiran para pakar di bidang spiritual, penulis berasumsi jika seorang guru memiliki pengamalan spiritual yang baik maka :
1.                            Sikap seorang guru dalam lingkungan kerjanya akan selalu memikirkan ulang tujuan-tujuan mengajar dan mendidik mereka serta me-rekontekstualisasikan efek-efeknya.
2.                            Guru yang telah memiliki landasan spiritual adalah guru yang mawas diri. Dalam lingkungan kerjanya, dia tahu apa yang diyakini olehnya dan komunitasnya, apa dan siapa yang mereka pengaruhi, dan apa yang ingin mereka capai.
3.                            Guru telah memiliki landasan spiritual akan membentuk lingkungan komunitas yang terbimbing oleh visi dan nilai (vision and value led). Visi utama mereka sebagai pengajar dan pendidik terlihat nyata dan mengilhami apapun yang mereka lakukan.
4.                            Dengan spiritual terjaga, guru dan komunitas yang telah dibentuknya merasa bahwa dirinya merupakan bagian dari tujuan manusia yang lebih luas, bagian dari skenario global yang lebih luas. Merasa menjadi bagian dari dan bertanggungjawab terhadap masyarakat, bumi dan kehidupan itu sendiri sehingga akan mempertimbangkan bahwa setiap hal yang dilakukan atau ditampilkan dalam budaya pengajaran dan pendidikan akan berdampak praktis.
5.                            Guru akan menjadi pribadi yang peduli. Mereka memiliki simpati dan rasa kebersamaan dengan pihak yang mereka pengaruhi (khususnya siswa), sehingga merasa bertanggung jawab untuk melakukan sesuatu demi keberhasilan siswa.
6.                            Guru akan mengakui bahwa sudut pandang perlu disimak, dan memahami bahwa sudut pandang memiliki suatu validitas tersendiri sehingga mengakui bahwa keragaman siswa menjadi motivasinya menciptakan iklim yang menggairahkan dalam setiap kegiatan belajar mengajar (KBM).
7.                            Guru yang mengamalkan spiritualnya akan memiliki pula karakter  field-independent (independent terhadap lingkungan). Mereka berani tampil beda, berani memisahkan diri dari orang banyak bahkan berani tidak populer demi kebernilaian dan rasa memiliki harga diri bukan dari pandangan orang lain terhadap mereka melainkan dari satu keyakinan bahwa mereka benar, bahwa mereka bertindak sesuai dengan nilai dan visi yang mereka tanamkan.
8.                            Guru akan membangkitkan pertanyaan-pertanyaan fundamental mengapa? (why?). Mereka tidak membiarkan diri terobsesi oleh hasrat mencapai tujuan-tujuan spesifik. Sebaliknya mereka  merenungkan alasan mereka memilih tujuan-tujuan mereka, bukannya tujuan-tujuan yang lain, dan apa konsekuensi-konsekuensi dari pilihan-pilihan itu.
9.                            Guru akan selalu siap bersikap fleksibel dan proaktif. Mereka tidak akan terkungkung oleh paradigma-paradigma, asumsi-asumsi, atau agenda-agenda yang ditetapkan. Mereka tidak akan takut akan timbulnya pertentangan dari dalam pihak yang loyal yang menolak perubahan. Mereka senantiasa membongkar, jika perlu meruntuhkan asumsi-asumsi mereka sendiri setelah memahami paradigma yang merupakan asal dari semua nilai, tujuan, rencana kerja, dan keputusan mereka memerlukan perubahan dalam dunia pendidikan.
10.                        Guru akan memberikan respon positif terhadap situasi buruk sekalipun. Penurunan prestasi, perubahan psikologi siswa, bahkan suasana kerja yang tidak kondusif memacunya untuk memandang hal tersebut sebagai kesempatan untuk lebih kreatif demi mencapai tujuan-tujuan besarnya.
11.                        Guru akan memelihara sikap rendah hati. Tidak akan membanggakan diri mereka, tidak pernah mengandalkan prestasi masa lalu, tidak pernah merasa puas diri atau merasa paling benar sendiri. Spiritual guru dapat ditingkatkan dengan melakukan hal-hal yang benar dengan tidak mencari pujian atau imbalan yang tidak pantas diterima.
12.                        Guru yang dengan pengamalan spiritual yang tinggi memiliki jiwa pengabdian. Mereka merasa terpanggil untuk membagi-bagikan ilmu dan kemampuan mereka demi memenuhi kebutuhan yang lebih luas dari masyarakat (siswa), kemanusiaan, dan kehidupan itu sendiri. Mereka sangat bersyukur atas setiap kontribusi yang dapat mereka lakukan demi diri mereka dan orang lain. Mereka tidak bersikap pasif.
Oleh karena itu prinsip dasar guru yang memiliki landasan spiritual dalam kehidupannya adalah menjadi baik itu menguntungkan. Lalu apakah guru dengan pondasi spiritualnya kemudian menafikan kebutuhan lahiriyahnya? Tentu saja tidak! Walau kebutuhannya bisa jadi setara dengan kebutuhan bertingkat yang di uraikan Maslow, ketajaman spiritualnya  akan menuntun motivasinya bukan pada motivasi kapitalis yang motivasinya penonjolan diri atau kompetitifitas, kemarahan, keserakahan dan ketakutan sehingga menimbulkan corak saling memangsa.
Definisi motivasi kapitalis difahami selama ini bahwa  orang yang mampu bersaing (kompetitif)lah yang mengeruk sebagian besar keuntungan. Kemarahan mencuat karena orang merasakan ketidakadilan, ketiadaan keadilan dan keterwakilan. Kekecewaan karena merasa hanya menjadi pion dalam sebuah permainan. Keserakahan merupakan penggerak yang utama dalam pemenuhan kebutuhan dengan melakukan strategi-strategi licik dan busuk. Ketakutan muncul dari takut membuat kesalahan, takut dicaci maki dan takut dipecat.
Motivasi yang muncul dari seorang pendidik (guru) dengan landasan spiritual dalam hemat penulis (sependapat dengan pendapat para pakar) akan mengarah kepada Netralitas/Pemahaman konsep diri akan makna mendidik. Eksplorasi/Mengembangkan kemampuan diri dalam dunia pendidikan. Kecenderungan bergaul (sosialisasi) dan bekerjasama sehingga memunculkan semangat kelompok (esprit des corps)/ luwes dan ramah baik terhadap peserta didik maupun lingkungan sekitarnya, Kekuatan dari dalam yang mengarah pada penguasaan diri (inner discipline) / jiwa yang tangguh. Generativitas (kreatifitas yang digerakkan oleh cinta dan hasrat positif) / kreasi dari naluri yang bersih dan tulus demi kemajuan dibidang pendidikan. Pengabdian yang lebih tinggi (higher service) / ikhlas. Jiwa dunia (world soul), orang yang melihat dirinya, orang lain dan alam sebagai manifestasi Tuhan . Pencerahan (enlightment), hidup biasa menurut orang namun luar biasa baginya setelah dimuliakan oleh cahaya bathiniah. Serta mampu mengimplementasikan dirinya sebagai jiwa yang berharga secara individu, komunitas dan lingkup yang lebih luas.
Menurut penulis, “Pendidik yang telah mengimplementasikan keyakinan akan Tuhan akan mampu menggali kualitas dirinya. Ketika menjalankan tugas sebagai guru tidak pernah terbersit untuk mengharapkan menjadi guru favorit lalu kemudian disegani, dipuji dan dipuja siswa dan lingkungan komunitas kemudian jumawa dengan ke Aku-annya sebagai bintang”.
Guru yang mengamalkan spiritualnya dalam kehidupan sehari-hari termasuk dalam mendidik akan melakukanlah tugas keguruan secara individu dan kelembagaan secara sinergis dan berkesinambungan demi tercapainya tujuan besar bersama. Sertifikasi dan serentet tunjangan akan dianggap  berkah semata, hal tersebut tidak menjadikan dirinya mengarah pada satu tujuan yang bersifat materil melulu dengan cara-cara yang melanggar norma.
Dalam tugas mengajar dan mendidik yang diembannya, seorang guru akan sangat bertanggung jawab terhadap setiap tugas-tuganya karena dia menyadari betul bahwa apapun yang dilakukannya tak luput dari pengamatan Tuhannya, sikap polahnya tercacat rapih dalam buku harian yang dituliskan malaikat pada setiap hembusan nafasnya.  
Guru yang telah mengamalkan spiritual dalam kesehariannya akan selalu mengingat kembali konsep besar diri dan tujuan komunitas dimana dia bergabung, sehingga seorang guru tidak lagi arogan, serakah, asal-asalan dan sanggup menipu diri dan lingkungan. Dengan spiritual yang diamalkan dengan baik, target yang ingin dicapainya adalah kebaikan bagi semua, kebaikan yang dijanjikan Tuhan bagi orang baik. (Chadijah, dari berbagai sumber)




0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews